Di antara datuk-datuk yang dikenal di masyarakat Bengkulu tersebutlah kakak beradik Datuk Meranau dan Datuk Markantab. Datuk Meranau sangat terkenal sebagai seorang yang kuat, pemberani dan berilmu. Pernah beberapa orang yang sedang berlayar di atas sampan menyaksikan datuk Meranau makan buah durian di mana kulitnya di buang ke sungai dan memanjang sepanjang 3 km perjalanan. Keberaniannnya pun tak diragukan dengan kecekatannya sang datuk mencungkil mata buaya yang tidak segera pergi ketika berada di hadapannya, dan sampai sekarang makamnya di Padang Serai di desa Sukaraja Seluma, dikeramatkan oleh banyak penduduk.
Datuk Meranau diketahui memiliki 2 orang putra dan 2 orang putri, yang putra dikenal bernama Datuk Jali dan adiknya adalah Datuk Jani. Di masa penjajahan Inggris atau Belanda, datuk-datuk tersebut sering melakukan penyergapan dan pengambilan harta mereka seperti kisah Robin Hood yang merampok harta orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin.
Di masa penjajahan pengaruh Islam memberikan pengaruh yang kuat dalam perjuangan umat Islam di Bengkulu, masa inilah masa hidup Datuk Jani yang juga dikaruniai 2 orang putra dan 2 orang putri sebagaimana bapaknya, salah seorang putranya adalah Datuk Haji Salim. Ia dikenal sebagai seorang yang fisiknya tinggi, besar dan kuat. Sejak muda ia sudah mengajarkan atau mendakwahkan Islam dan dikenal oleh masyarakat sebagai seorang guru ngaji yang aktif sampai masa tuanya. Bahkan ia tidak pernah absen setiap malam menjelang tidur ia mendongeng kepada cucu-cucunya yang berkunjung kepadanya. Selagi muda ia dijodohkan dan dinikahkan dengan Siti Ramlah anak dari Datuk Ahmad, dan dikarunia 2 orang putra 2 orang putri yaitu Sanul, Rahaswi, Lahmi, dan Nurbi. Selanjutnya Pada tahun 1987 ia pergi haji bersama besannya Datuk Haji Adam atas biaya dari anaknya yang bernama Rahaswi dan meninggal di Mekkah pada umur 75 tahun sesudah ia menyelesaikan seluruh prosesi ibadah hajinya.
Desa Jenggalu sebagaimana desa pada umumnya di Indonesia merupakan desa para petani dan perambah hutan, dan di kala itu, desa Jenggalu meupakan desa yang sangat miskin dan tertinggal, sehingga beberapa pemuda melakukan perjuangan hidupnya dengan berdagang. Salah satu pemuda itu adalah Rahaswi, sementara kakaknya Sanul memilih jalan hidup menjadi guru dan bertani, Rahaswi memilih berjualan barang pecah belah dimulai dari menggunakan kedua kakinya alias door to door alias mikul barang, kemudian pakai gerobak, lalu pakai sepeda, meningkat sepeda motor, selanjutnya mobil dan akhirnya sampailah ia membuka toko di pusat kota Bengkulu. Sudah barang tentu kisah sukses menyisipkan kisah kegagalan. Ia pun beberapa kali gagal dalam beberapa bisnis yang coba dijalani mulai dari jasa angkutan, kontraktor dan lain-lain. Bahkan di masa krisis moneter ia pun terpaksa mengalihkan bisnis penopang hidup keluarganya ke bisnis perhotelan yaitu Hotel Andalas Permai yang saat ini berdiri megah di bilangan Jalan Suprapto Raya (jalan cendrawasih), ia pun sukses mengembangkan agrobisnis dengan memiliki belasan hektar kelapa sawit yang produktif.
Sewaktu muda ia menikah dengan Hasnawani ia adalah anak dari Datuk Haji Adam dan cucu dari Datuk Duamar. Datuk Duamar dikenal oleh masyarakat bengkulu dengan julukan Datuk Belang, di sebut Datuk Belang karena badannya belang-belang dan dikenal berilmu serta berani dalam melakukan penghadangan untuk menyergap orang-orang belanda pada masa itu.
Dari pernikahannya lahirlah anak-anaknya yang berhasil mereka antarkan sampai pada pendidikan yang tinggi. Putri yang pertama adalah Erniwati, SSos (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia), yang kedua ialah Ir. Enriadi lulusan D3 di Universitas Indonesia, dan lulusan S1 dari Universitas Gajah Mada, saat ini ia di kenal sebagai pengusaha MLM dari PT K-Link Indonesia dengan peringkat Crown Ambasador, peringkat tertinggi dan prestisius hasilnya juga luar biasa dalam waktu yang singkat ia sudah memiliki asset berupa rumah pribadi, ruko pribadi, 3 mobil pribadi, bahkan keliling dunia sudah menjadi agenda tahunannya.
Anaknya yang ketiga ialah Efrianto lulusan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila Jakarta, saat ini ia bekerja sebagai apoteker profesional di jaringan apotik Guardian yang merupakan unit bisnis dari grup bisnis Hero di Jakarta. Terakhir adalah yang paling bungsu ialah Esierawati lulusan S1 & S2 di Universitas Indonesia dan ia bersama keluarganya tinggal di Bekasi.
Sampai tulisan ini dibuat H. Rahaswi yang dikenal dengan panggilan Datuk Sui tercatat sudah tiga kali berangkat naik haji bersama istrinya dan terakhir bersama anaknya yang pertama dan menantunya yaitu Erniwati dan Zainul Arief pada tahun 2007, tak heran ia menjadi salah seorang tokoh masyarakat Bengkulu yang disegani dan berpengaruh. Pada awal pemilu demokratis tahun 1999 ia diangkat sebagai ketua majelis penasehat dan pertimbangan Partai Amanat Nasional wilayah Bengkulu. Pada tahun 2004 ia mengundurkan diri dan mengalihkan dukungannya bagi putri pertamanya Erniwati Ssos yang pada saat itu di amanahkan sebagai Calon Anggota Legislatif DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera.
Sejak duduk di SD sampai dengan SMU, Erniwati kecil dikenal sebagai anak yang aktif, cerdas, dan berprestasi ranking nomor satu, dua dan tiga sudah menjadi langganan di raportnya, sehingga tidak heran kemudian ia lulus tanpa tes (PMDK) dan diterima di Universitas Indonesia Jakarta. Pada masa remaja ia sudah memiliki kesadaran Islam yang baik, karena itu ia mengenakan jilbab selepas lulus SMU sampai sekarang, di masa kuliah ia dikenal sebagai aktifis dakwah kampus, dan ketika ia menikah pun ia memilih karir pada profesi yang mulia yaitu sebagai ibu rumah tangga, dan sangat aktif dalam dakwah dan mengajarkan Islam dalam kelompok-kelompok pengajian atau majlis taklim di lingkungan masyarakat.
Saat ini Erniwati tinggal di jalan Minyak (guru alif) Duren Tiga Pancoran Jakarta, rumah tersebut berada dekat dengan lingkungan komplek Pertamina dan tidak jauh dari Kantor Perwakilan Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu yang berada di jalan Duren Tiga Raya. Di rumah itu ia hidup bersama dengan suaminya H. Zainul Arief SE MM seorang trainer, konsultan manajemen, aktivis koperasi syariah, aktivis dakwah, dan pengusaha. Pernikahannya yang berlangsung pada tanggal 27 Juli 1996 di Kota Bengkulu, telah memberinya empat putra yaitu Muhammad Fida, Fauzan Abdurrahman, Fariz Ar Rasyid, dan Fatih Rabbani, yang ke lima insyaAlloh saat tulisan ini dibuat ia sedang menghitung hari.
Pada pemilu 2009 ini, kembali Hj. Erniwati SSos diamanahkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera untuk menjadi Calon Anggota Legislatif DPR RI. Sebagai calon ia menyadari sepenuhnya posisi terpilihnya ia sebagai wakil masyarakat Bengkulu dikarenakan ia memiliki kapasitas moral, kapasitas intelektual, kapasitas sosial, kapasitas pengaruh, dan kapasitas politik yang lebih dari rata-rata.
Paling tidak untuk kapasitas politik Hj. Erniwati SSos telah membuktikan keterwakilan suaranya sebesar 100% terdapat di setiap kabupaten di seluruh provinsi Bengkulu pada pemilu 2004, bahkan keterwakilan suara terbesar berada pada 3 kabupaten terbesar yaitu Kota Bengkulu, Bengkulu Utara dan Bengkulu Selatan. Menyadari potensi ini maka pada pemilu 2009 ini, ia kembali meningkatkan dan menguatkan silaturahim di lingkungan keluarga besar yang selama ini telah dibangunnya melalui Jaringan Silaturahim Keluarga Datuk Haji Sui yang pada tahun ini diharapkan mencapai 90% di tingkat kecamatan, dan 80% di tingkat desa.
Dengan demikian Islam sebagai kenikmatan yang sempurna dapat disebarkan, dibagikan dan dirasakan oleh masyarakat Bengkulu, sampai benarlah apa yang dikatakan Alloh dan RosulNya, bahwa Bengkulu dapat menjadi bagian dari Negeri yang Baldatun Thoyibun wa Rabbun Ghafur, yang penduduknya mendapatkan keberkahan dari langit dan dari bumi dikarenakan penduduknya beriman dan bertaqwa.